Kecerdasan Spiritual (SQ)


SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna
dan nilai, yaitu menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna
yang lebih luas dan kaya, serta menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang
lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (Zohar & Marshall, 2002:4). SQ
melampaui kekinian dan pengalaman manusia, serta merupakan bagian terdalam dan
terpenting dari manusia (Pasiak, 2002:137).
Indikasi dari SQ yang telah berkembang dengan baik mencakup: a)
Kemampuan untuk bersikap fleksibel, b) Adanya tingkat kesadaran diri yang tinggi,
c) Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, d) Kemampuan
untuk menghadapi dan melampaui perasaan sakit, e) Kualitas hidup yang diilhami
oleh visi dan nilai-nilai, f) Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak
perlu, g) Kecenderungan untuk berpandangan holistik, h) Kecenderungan untuk
bertanya “mengapa” atau “bagaimana jika” dan berupaya untuk mencari jawaban-
jawaban yang mendasar, i) Memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi
(Zohar & Marshall, 2002:14).
SQ, Agama, dan Etika
SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. SQ mendahului seluruh nilai
spesifik dan budaya manapun, serta mendahului bentuk ekspresi agama manapun
yang pernah ada. Namun bagi sebagian orang mungkin menemukan cara
pengungkapan SQ melalui agama formal sehingga membuat agama menjadi perlu
(Zohar & Marshall, 2002:8-9).
SQ memungkinkan seseorang untuk menyatukan hal-hal yang bersifat
intrapersonal dan interpersonal, serta menjembatani kesenjangan antara diri dan
orang lain. (Zohar & Marshall, 2002:12). Wujud dari kecerdaan spiritual ini adalah
sikap moral yang dipandang luhur oleh pelaku (Ummah dkk, 2003:43). Matinya
etika lama
dan seluruh kerangkan pikiran yang mendasarinya, memberi kesempatan
yang berharga untuk menciptakan ajaran etika baru berdasarkan SQ (Zohar &
Marshall, 2002:175).

Tidak ada komentar: